MILZERU – Film yang di adaptasi dari novel karya pramoedya ananta noer ini sukses memberikan banyak pujian dari para penonton. Fim ini di produksi oleh rumah produksi falcon pictures serta di sutradarai oleh sutradra papan atas indonesia hanung bramantyo. Selain itu, film ini juga di isi oleh para aktor muda seperti Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Giorgino Abraham, Jerome Kurnia, dan Bryan Domani yang bersanding dengan para aktor senior seperti Sha Ine Febriyanti, Donny Damara, Ayu Laksmi, Dewi Irawan dan lain-lain.

Di masa penjajahan Belanda, Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah pribumi murid sekolah bergengsi H.B.S yang umumnya diisi oleh para siswa keturunan Belanda ataupun pribumi keturunan priyayi. Bersama Surhoff (Jerome Kurnia), Minke diajak ke rumah sahabatnya Robert Mellema (Giorgino Abraham). Di rumah itu, Minke bertemu dengan adik Robert, Annelies (Mawar Eva de Jongh), dan jatuh cinta. Hubungan mereka pun direstui oleh ibu Annelies, seorang gundik (istri kedua) Herman Mellema (Peter Sterk) yang bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).

Minke belajar banyak dari Nyai Ontosoroh yang menginspirasi Minke bahwa seorang budak yang diibaratkan sebagai sosok yang terjajah tapi mampu mengambil sikap, mandiri dan penuh perlawanan akan ketidakadilan. Namun, budak tetaplah budak. Manakala dihadapkan pada hukum eropa, keduanya tak berdaya. Peristiwa kedatangan anak pertama Herman Mellema, peristiwa kematian misterius Herman, serta tuntutan pewaris harta Herman mewarnai konflik film yang menguji keteguhan hati Nyai Ontosoroh dan intelektualitas Minke untuk melawan tirani yang membelenggu.

Bumi Manusia adalah kisah perjuangan kelas, perjuangan seorang Pribumi yang menuntut keadilan baginya, bagi mertuanya dan bagi bangsanya. Perjuangan yang akhirnya meruncing menjadi pertentangan antara Hukum Eropa dan Hukum Islam. Hukum Eropa, sebagai sebuah tatanan aturan yang dianggap ‘beradab’ dan ‘modern’ ternyata tidak lebih dari sekedar hukum yang menjerat dan menyengsarakan.

Bumi Manusia versi layar lebar cukup baik dalam memaparkan cerita. Tidak terburu-buru plus dengan latar masa lalu. Satu hal yang sebenarnya sangat sering dilakukan Hanung Bramantyo ketika membuat film. Jadi, jika bicara alur cerita dan plot, film ini baik-baik saja. Hanya saja untuk beberapa bagian, terasa lambat dan mungkin akan memancing kamu untuk menguap dan terus menguap. Meskipun cukup baik dalam memaparkan cerita, namun ada sudut pandang lain yang bisa dilihat dari film ini. Penggunaan bahasa akan menjadi bagian yang bisa dinikmati di dalam film ini.

Budaya, tempat, alat transportasi hingga hal detil seperti gestur tubuh menjadi pelengkap set desain yang sudah disiapkan untuk filmnya. Suasana kolonial begitu sangat kuat di dalam film in. Penggunaan warna yang terkesan vintage juga menjadikan film ini menggambarkan bagaimana kehidupan masa lalu.

Semuanya dikombinasikan dengan gaya sinematografi yang punya baik pula. Komposisi demi komposisi hingga angle gambar yang ditampilkan  membantu film ini tampil baik. Plus, scoring musik yang memang membuat penonton berada dalam suasana masa lalu. Berdiri di tengah hiruk-pikuk kekalutan tatanan sosial masyarakat yang kasar dan perihnya mempertahankan sesuatu yang dicintai.

Film yang penuh makna akan masa lalu dan sejarah ini membuat penonton nya berdecak kagum. Film ini dibuat secara totalitas. Mulai dari raut wajah, mimik bicara masa lampau, hingga set tempat dan properti yang menunjukkan kejadian masa lampau. Film penuh makna dan sarat akan sejarah ini sngat layang untuk disaksikan mengingat film ini di buat secara baik dan film ini banyak akan pelajaran hidup di masa lampau.