MILZERU –  Hadir satu lagi film karya anak bangsa di penghujung bulan Oktober. Damn! I Love Indonesian Movies bekerja sama dengan Oreima Films, dan Easr West Synergy memproduksi sebuah film yang mengisahkan perjalanan hidup legenda bulu tangkis Indonesia yang tak lain adalah Susi Susanti. Film Susi Susanti tayang pada 24 Oktober 2019,

Susi Susanti atau yang memiliki nama lengkap Lucia Fransisca Susi Susanti lahir di Tasikmalaya, 11 Februari 1971. Ia merupakan seorang pemain bulu tangkis Indonesia yang menjadi legenda karena prestasinnya. Prestasi yang telah diraih oleh Susi Susanti selama karirnya sangat membanggakan hingga mengharumkan nama Indonesia di dunia Internasional. Salah satu prestasi yang pernah Susi Susanti raih adalah emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992, lalu medali perunggu dalam Olimpiade Atlanta 1996, dan masih banyak lagi. Selain itu, Susi Susanti juga pernah meraih Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama pada tahun 1992 dan The Badminton Hall Of Fame pada tahun 2004 dari International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation). Pada tahun 1998, Susi Susanti memutuskan untuk gantung raket atau pensiun sebagai pemain. Namun Susi Susanti tetap berkontribusi dalam dunia bulu tangkis hingga saat ini.

Film Susi Susanti: Love All ini merupakan sebuah film drama romantis dengan nuansa yang berbeda. Film ini mengisahkan perjuangan seorang wanita hebat yang bernama Susi Susanti dari masa kecilnya hingga menjadi legenda bulu tangkis Indonesia. Dimulai dengan mimpi, ketekunan, serta ambisi yang dituangkan menjadi satu dalam film Susi Susanti: Love All.

Tidak melulu soal bulu tangkis, film garapan Sim F ini juga mengangkat kondisi gejolak politik Indonesia yang saat itu sedang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Masa dimana warga keturunan Tionghoa pada saat itu sangat sulit mendapat status kewarganegaraan. Di sisi lain, film ini juga mengajarkan poin-poin sejarah yang penting untuk diketahui tanpa banyak menggurui.

Susi Susanti (Laura Basuki) tumbuh dalam keluarga sederhana bersama orang tua dan seorang kakak, Rudy. Ibu Susi merupakan seorang mengusaha bakpau dan ayahnya Rishad Taditono (Iszur Muchtar) merupakan mantan atlet PON. Film ini dibuka dengan adegan ketika Susi kecil (Moira Tabina Zayn) kabur saat harus menari balet di panggung acara 17-an. Susi lebih memilih untuk menonton sang kakak yang sedang bertanding bulu tangkis. Namun sayangnya sang kakak kalah dan diejek, Susi yang tidak terima perlakuan sang lawan terhadap kakaknya menantang sang lawan untuk bermain dengannya. Susi sukses melumpuhkan sang lawan yang notabene-nya merupakan juara bertahan di Tasikmalaya. Semenjak itu, Susi mendapat tawaran untuk berlatih di PB Jaya Raya. Di Pelatnas PBSI, Susi dimentori pelatih Liang Chiu Sia (Jenny Zhang Wiradinata). Didikan Sia sukses membuat Susi mendapat pengakuan Internasional setelah menjuarai medali emas pertama dalam Olimpiade Barcelona tahun 1992.

Tidak hanya mengekspos perjuangan Susi hingga sampai di puncak, film ini juga menceritakan kisah cinta antara Susi dan Alan Budikusuma (Dion Wiyoko) yang disajikan dengan porsi yang cukup.

Nuansa yang disuguhkan film Susi Susanti: Love All ini membuat penontonnya antusias, dan tegang. Film yang mengangkat cerita perjalanan hidup seorang legenda ini memiliki rasa nasionalis yang sangat kental, terutama pada momen Susi memenangkan sebuah kejuaraan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan.

Dari sisi akting, Laura Basuki sukses merasuk ke dalam karakter Susi Susanti yang ambisius. Kemudian chemistry antara Laura dan Dion pun sudah tidak bisa diragukan lagi. Adegan demi adegan antara keduanya membuat penonton tersenyum dan gemas sendiri.

Suasana dan pembawaan dalam film ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Karena Sim F sukses memperlihatkan suasana 80an dan 90an dalam film tersebut. Dimulau dari detail paling sederhana seperti gaya rambut, pakaian, ruko, toko, dan kendaraan yang berlalu lalang semua persis seperti zamannya.

Secara garis besar film Susi Susanti: Love All merupakan film yang sangat bagus dan menginspirasi. Kita dibawa bernostalgia dengan melihat perjuangan sang legenda bulu tangkis Indonesia dan gejolak politik Indonesia pada saat itu.