MILZERU – Memperingati sepuluh tahun berkarya di industri musik Indonesia, HIVI! merilis album terbaru bertajuk “Ceritera”. Album terbaru mereka disebut sebagai apresiasinya untuk semua sosok yang ikut berpartisipasi dalam perjalanan karier HIVI! hingga satu dekade ini. Terdapat 9 lagu dalam album “Ceritera” yang setiap personel memiliki perannya masing-masing dalam pembuatan lagu-lagunya.

Lagu yang masuk dalam album Ceritera diantaranya “Satu-Satunya, Pemuda, Bumi dan Bulan, Musim Hujan, Bahagia, Teman Sejati, Tersenyum Untuk Siapa?, Patung Batu, dan Jatuh, Bangkit Kembali”. Setiap lagu memiliki arti tersendiri bagi tiap-tiap personel HIVI!. Mereka juga menggandeng musisi senior, Tohpati dalam pembuatan albumnya.

Salah satu lagu HIVI! yang cukup menarik perhatian dari album terbarunya adalah “Musim Hujan”. Lagu ini mengisahkan mengenai musim hujan yang sedang berlangsung. Dalam kisahnya, tentu ada romansa percintaan dan rasa rindu yang dibangun.

Lagu “Musim Hujan” menceritakan kisah balik kenangan yang muncul dengan seseorang. Bukan kenangan yang dinyanyikan secara sendu, namun vokalis menyanyikan lagunya secara ceria sehingga gak ada istilah sendu dalam lagu ini meski mengingat kenangan tentang seseorang. Lagu “Musim Hujan” ini dapat menemani dalam sunyi.

Genre musik pop diterapkan dalam album “Ceritera”, pun dengan lagu “Musim Hujan”. Pendengar yang telah biasa mendengarkan beberapa musik dari HIVI! sepertinya akan langsung mengenal meski hanya mendengar intro lagunya saja. Dari lagu ini kita bisa mendengar ciri khas HIVI! dalam setiap musiknya.

Lagu “Musim Hujan” ini akan lebih cocok jika didengarkan saat musim hujan dalam keadaan merasakan kesendirian. Pesan yang coba dibangun oleh HIVI! akan lebih mudah dirasakan oleh pendengar. Banyak komentar positif setelah mendengarkan lagu ini. Dalam official lyric video yang diunggah pada 13 November 2019 di akun Youtube HIVI!, videonya telah ditonton oleh sebanyak 250 ribu penonton pada 21 November 2019.

Lirik lagu Musim Hujan – HIVI!:

Musim hujan akhirnya datang

Aku telah merindukannya

Musim hujan selalu terkenang

Aku mengingat indahnya

 

Dan hujan datang kemari

Temani diriku yang sepi

Deru derasnya mengiringi

Setiap kata yang berbisik di hati

 

Dan hujan datang kembali

Temani diriku yang sunyi

Jangan berhenti menyirami

Hingga ku terbangun di esok pagi

 

Musim hujan tahun sekarang

Masih teringat dirinya

Musim hujan yang akan datang

Aku harus relakannya

 

Dan hujan datang kemari

Temani diriku yang sepi

Deru derasnya mengiringi

Setiap kata yang berbisik di hati

 

Dan hujan datang kembali

Temani diriku yang sunyi

Jangan berhenti menyirami

Hingga ku terbangun di esok pagi

 

Musim hujan selamat datang

Janganlah engkau cepat menghilang

 

Dan hujan datang kemari

Temani diriku yang sepi

Deru derasnya mengiringi

Setiap kata yang berbisik di hati

 

Dan hujan datang kembali

Temani diriku yang sunyi

Jangan berhenti menyirami

Hingga ku terbangun di esok pagi

 

Dan hujan datang kemari

Temani diriku yang sepi

Deru derasnya mengiringi

Setiap kata yang berbisik di hati

 

Dan hujan datang kembali

Temani diriku yang sunyi

Jangan berhenti menyirami

Hingga ku terbangun di esok pagi

 

Musim hujan yang akan datang

Aku harus relakannya

(Musim hujan)