MILZERU –  Perusahaan penyedia jasa Streaming asal Singapura, Hooq dikabarkan akan menutup layanya dalam waktu dekat ini. kabar ini datang langsung dari perusahahan iduknya yakni Persuahaan Telekomunikasi Singapura (Singtel) pada Jumat (27/3).

Di Indonesia sendiri Hooq bersaing dengan aplikasi media streaming lainya seperti Netflix, Viu, dan Inflix. Kabarnya akibat tidak sesuai target dan tidak mampu lagi menutup biaya produksi yang lebih besar dari pendapatan, Hooq akan mengajukan Likuidasi. 

Namun Sebelum melaksanakan Likuidasi, Pihaknya akan melakukan rapat umum pemegang Saham (RUPS) dengan kreditor yang akan berlangsung pada 13 April mendatang. 

Dalam pernyataan resminya, Hooq menjelaskan bahwa terjadi perubahan struktural yang signifikan di pasar Video Over The Top (OTT), dan langsap kompetisinya sejak berdiri 5 tahun lalu. Konten film dan Televisi berbasis OTT, lebih disediakan melalui koneksi internet berkecepatan tinggi dibandingkan dengan kabel dan satelit. 

Diambang Kebangkrutan, Hooq Dinilai Kalah Saing Dengan Netflix

"Penyedia konten global dan lokal semakin mengarahkan, biaya konten tetap tinggi, dan kemauan konsumen pasar berkembang dan meningkat di tengah persaingan yang semakin meningkat. Sebagai hasil dari perubahan ini, model bisnis yang layak untuk platform distribusi OTT memasuki babak tantangan baru," dikutip dari keterangan resmi Hooq di Singapura.

Singtel, Sony Pictures Television, dan Warmer Bros Entertaiment, Pertama kali mendirikan Hooq pada tahun 2015 lalu. Hooq memberikan layanan streaming khususnya untuk pemirsa di kawasan Asia termasuk Indonesia. Di Indoesia sendiri Hooq hadir pada tahun 2016 lalu. Pada saat itu Hooq bekerja sama dengan perusahaan Operator Seluler seperti Indosat, Smartfren, Xl, dan Telkomsel. 

Diketahui Telkomsel pernah memberikan paket khusus untuk streaming melalui Hooq. Dengan memberikan kuota khusus tersebut  pengguna bisa menikmati streaming melalui aplikasi Hooq tanpa khawatir kuota habis, hal ini karena kuota yang diberikan dipisahkan dari kuota reguler. 

Diambang Kebangkrutan, Hooq Dinilai Kalah Saing Dengan Netflix

Namun seiiring berjalanya waktu, Hooq justru dinilai tidak mampu bersaing dengan Netflix, sebuah Perusahaan streaming asal Amerika Serikat. Hal ini karena jumlah penonton Hooq tidak mencapai target sehingga tidak mampu lagi menutup biaya produksi yang lebih besar dibandingkan pendapatan. 

Walaupun berada diambang kebangkrutan, layanan Hooq masih tetap berjalan, hingga keputusan final pada rapat umum pemegang saham (RUPS) yang akan dilaksanakan di Singapura beberapa minggu kedepan. Hasil dari rapat umum tersebut menjadi penentu apakah layanan film streaming Hooq tetap berjalan atau tidak.  

 "Intinya belum tutup (layanan Hooq). Tunggu hasil RUPS ya," ungkap Guntur Siboro, Country Head Hooq Indonesia, dilansir VIVA, pada Jumat (27/3).