MILZERU – Di masa pandemi Covid-19, pemakaian masker menjadi sebuah keharusan. Pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk selalu memakai masker kain terutama saat berada di tempat publik. Hal itu dilakukan guna mencegah penyebaran virus corona penyebab sakit Covid-19 yang kini telah menjadi pandemi global. Namun, hal itu mungkin menjadi masalah bagi teman penyandang disabilitas, khususnya untuk masyarakat yang memiliki gangguan pendengaran. Teman tuli sendiri dikenal selalu berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang mengedepankan ekspresi wajah termasuk bagian mulut. Alhasil, ketika menggunakan masker, komunikasi itu menjadi sulit dan terhambat.

Cara lain untuk berkomunikasi adalah dengan bertukar tulisan. Namun cara ini dianggapnya "agak repot", karena tak semua lawan bicaranya bisa baca dan tulis. Kemudian, terbesitlah ide membuat masker transparan yang memperlihatkan bagian mulut penggunanya, sehingga memudahkan para teman tuli melihat gerak bibir lawan bicaranya.

Sebagai wujud dukungan kepada pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran wabah virus corona, Fadel Muhammad, Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta, berhasil membuat masker yang ramah untuk para teman tuli di masa pandemi corona. Ide tersebut dikembangkan dari sebuah penemuan masker ‘ekspresi’ oleh seorang mahasiswa di Florida.

Masker dibuat menggunakan bahan sederhana, seperti kain yang halus dan kertas plastik bening. Sesuai dengan namanya, masker transparan ini berbeda dengan masker kain atau masker bedah pada umumnya. Masker ini didesain khusus, di mana bagian tengahnya sengaja dibuat transparan menggunakan potongan mika. Penggunaan mika pada masker transparan dimaksudkan agar sang pengguna dapat membantu para teman tuli dalam membaca gerak bibirnya. Individu atau orang yang paling tepat mengenakan masker tersebut adalah pihak keluarga dari teman tuli. Dengan begitu penggunaan masker transparan semakin membantu komunikasi para teman tuli memahami persoalan di masa pandemi corona.