MILZERU – Layanan streaming HOOQ di Indonesia ditutup pada 30 April 2020. Kabar penutupan ini di konfirmasi langsung oleh pemegang saham HOOQ, yang sudah memutuskan untuk likuidasi perusahaan. Setelah tanggal 30 April nanti, pelanggan HOOQ dilaporkan tidak akan lagi dibebankan biaya, pengguna baru juga tidak lagi dapat mendaftar pada layanan streaming yang ditawarkan oleh aplikasi ini mulai keputusan likuidasi diputuskan Singtel.

Guntur Siboro, Country Head HOOQ Indonesia menggapi alasan likuidasi perusahaan yang di isukan ini terkait dengan pandemic Covid-19.

HOOQ Digital pada Maret lalu mengajukan likuidasi karena tidak dapat bertumbuh secara memadai maupun meraih profit yang berkelnajutan untuk menutupi biaya yang terus naik. Pengajuan Likuidasi di Singapore dilakukan oleh Singapore Telecommunication atau Singtel selaku pemegang saham terbanyak di HOOQ. SIngtel menguasai 76,5% saham di HOOQ.

HOOQ di sebut tidak dapat berkompetisi dengan penyedia layanan video streaming serupa lainnya yang ber operasi di Asia seperti Netflix, Iflix, dan Viu. 

HOOQ Digital merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Singapore Telecommunication Ltd (Singtel), Sony Pictures Television, dan Warner Bros Entertainment yang di dirikan pada tahun 2015. Aplikasi ini beroperasi di Singapora, Philiphina,Indonesia, Thailand, Indonesia, dan India. Yang dimana jumlah penggunanya diklaim mencapai 80juta. Sedangkan Netflix dari Amerika Serikat merupakan pesaing terbesar nya.

Di Indonesia HOOQ bekerja sama dengan rumah produksi lokal untuk menyediakan konten di platform tersebut, antara lain MD Pictures danStarvision. HOOQ juga menjali kerja sama dengan sejumlah operator telekomunikasi seperti Smartfren dan Telkom untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Perushaan menerapkan system bundling dari pembelia  paket kuota internet operator seluler, tetapi kesulitan untuk meraih pendapatan dari biaya langgaan yang dibayar langsung oleh pengguna.

Selain itu juga HOOQ pernah menjalin kerja sama agar pengguna dapat mengakses konten video dari Aplikasi Grab. Namun sayangnya langkah ini tidak cukup baik untuk bisa membuat bisnis HOOQ bertumbuh.

Sebelumnya HOOQ menegaskan fokusnya pada pasar Asia, sehingga tidak merambah konten Hollywood untuk dipasarkan di wilayah Asia. Saat itu HOOQ menyebutkan bahwa keputusan ini berdasarkan pada keinginan untuk mempelajari minat penontonnya di negara masing-masing.

Meskipun demikian, HOOQ juga memiliki ragam prestasi yang terus mencuat hingga membuat HOOQ bertahan. Seperti pada tahun 2016, HOOQ dinobatkan sebagai APlikasi Seluler terbaik di kategori Media, Film, TV, atau Video di Global Mobile Awards GSMA di Barcelona.