MILZERU – Seperti kita ketahui Bersama, film Miracle in Cell No.7 sangat sukses di tahun 2013. Film yang dibintangi oleh Park Shin-Hye berhasil merebut air mata para penontonnya mengalir. Sutradara film tersebut, Lee Hwan Kyung berhasil mendulang pendapatan 81, 8 juta dolar atas sekitar 1,2 triliun, dan menjadi film terlaris di Korea Selatan pada tahun 2013 silam.

Atas dasar tersebut sutradata kawakan Indonesia, Hanung Bramantyo berkesempatan menyutradarai film Miracle In Cell No.7 versi Indonesia. Dibintangi oleh aktris ternama seperti Vino G. Bastian, Mawar De Jongh, Indro Warkop, Tora Sudiro, dan aktris cilik Graciella Abigail, film Miracle In Cell No.7 versi Indonesia menawarkan beberapa perbedaan dari versi aslinya.

MCN 7

Source : Pinterest

Berikut perbedaan yang berhasil Tim Milzeru kumpulkan:

  1. Perbedaan hukum yang dipakai

Film Miracle in Cell No.7 merupakan salah satu film yang menggunakan unsur hukum didalam filmnya. Di mana dalam versi Korea Selatan, tokoh ayah yang memiliki keterbelakangan mental di film ini di penjara akibat dituduh melakukan penculikan dan kekerasan seksual terhadap anak. Akibat peristiwa itu, anak perempuan tokoh ayah ini pun dikirim ke lembaga pengasuhan negara.

Walaupun film ini akan balatarkan cerita suasana Indonesia, namun sang sutradara Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa versinya tak akan mengadaptasi hukum Indonesia. Hanung tak ingin menggunakan hukum negara Indonesia dalam filmnya.

Mawar D jongh

Source : Falconpictures_

"Iya, ada yang beda, kalau lihat treatmen kan soal hukum. Meskipun yang main Indro atau Vino yang orang Indonesia, hukum yang ada tetap bukan di Indonesia, tapi hukum di film ini. Jadi bukan adaptasi hukum Indonesia, seperti hukum negeri sendiri, bahkan nama penjaranya fiktif," kata Hanung Bramantyo dalam telekonfrensi pers, Senin (11/5/2020).

"Ini keputusan atas saran dari penasihat hukum kita, jadinya kita mengcreate hukum sendiri. Jadi memang hukumnya nggak sama dengan indonesia, karena akan sangat berisiko jika kita adopsi hukum negeri ini kita bawa ke film," tuturnya.

 

  1. Cuaca dan iklim yang berbeda

Ada perbedaan mendasar dari film Miracle In Cell No.7 versi Indonesia dengan versi Korea Selatan, yaitu dari cuaca dan iklimnya. Para film aslinya, tokoh korban digambarkan tewas akibat terpeleset licinnya air salju. Hanung menuturkan bahwa ada perbedaan penyebab konflik utama film tersebut.

vino G bastian

Source : Falconpictures_

"Iklim di Indonesia beda sekali dengan di Korea selatan. Jadi di film korea itu kan iklim sangat berperan penting," tuturnya. Kemudian Hanung juga menjelaskan "Si anak kecilnya itu kan jatuh karena musim dingin, maka kalau kita ikutan bikin musim dingin dan bikin genangan air yang menjadi es. Kalau itu diadaptasi ke Indonesia akan rancu, itu yang harus diubah”.

Nah, itu dia gengs perbedaan yang paling mencolok dari film Miracle In Cell No.7 versi Indonesia dan versi aslinya.