MILZERU – Belum lama ini, sejumlah Tenaga medis di Indonesia meluapkan kekesalan mereka terhadap pemerintah dalam beberapa kebijakan menghadapi virus Corona (Covid-19). Tagar #IndonesiaTerserah menggema di media sosial berisikan foto-foto dan video tenaga medis. Mereka sangat menyayangkan sejumlah kebijakan pemerintah di antaranya adalah pengecualian pergerakan masyarakat keluar kota hingga diperbolehkannya warga berusia di bawah 45 tahun di 11 sektor untuk kembali bekerja di kantor.

Joko Mulyanto, seorang Pakar kesehatan masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah ikut membagikan foto tenaga medis yang sedang memegang kertas yang bertuliskan “Indonesia terserah, suka-suka kalian” di akun Twitter-nya. Joko mengatakan foto itu bukan miliknya, tapi beredar di salah satu grup WhatsApp tempat ia bergabung. Cuitan itu dibagikan lebih dari 11.000 orang dan disukai lebih dari 24.000 orang hingga Jumat (15/05) sore.

Ia mengatakan terkejut foto itu dibagikan begitu banyak orang di media sosial. "Dalam pandangan saya, [foto] itu di-retweet dan di-like begitu banyaknya orang, berarti kegelisahan itu memang mungkin menjadi concern (perhatian) banyak orang di media sosial," kata Joko.

Di sisi lain, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Dokter Brian Sriprahastuti, menanggapi hal itu dengan menegaskan bahwa pemerintah tetap konsisten menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"[Sesuai] prinsip PSBB, individu masih boleh beraktivitas tapi dibatasi, termasuk work from home (bekerja dari rumah) dengan pengecualian," ujarnya dalam pesan tertulis pada BBC News Indonesia, hari Jumat (15/05).

Evi Rismawati, seorang tenaga kesehatan di salah satu puskesmas di Surakarta, Jawa Tengah, ikut membagikan fotonya yang memegang tulisan 'Indonesia Terserah' di akun media sosialnya. Evi, tenaga kefarmasian di puskemas itu mengatakan ia menyayangkan kebijakan pemerintah.

"Kecewa sama kebijakan pemerintah yang cenderung tumpang tindih. Yang 'A' bilang begini, yang 'B' bilang begini, jadi mereka nggak sinkron satu sama lain," ujar Evi. "Itu kan menyulitkan kami yang [bekerja] di [pelayanan] kesehatan. Kalau misalnya ada apa-apa, pasien tambah, otomatis kami yang repot."