MILZERU – Pada masa transisi menuju now normal, penggunaan masker dan face shield menjadi standar minimum dalam melakukan kegiatan di luar rumah. Terutama di area yang padat seperti pusat perbelanjaan atau pasar tradisional. Karena di tempat tersebut masih menjadi salah satu tempat yang potensial untuk penularan virus COVID-19.

Karenanya pemberian edukasi mengenai pentingnya menjalankan protokol kesehatan kepada semua kalangan masyarakat sangatlah penting, baik kita sendiri sebagai pembeli maupun para pedagang.

Hal itu diungkapkan Sugeng Ibrahim, Ahli Biomedik dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata Semarang, ketika membuka penyuluhan kepada penyuluh pengelola pasar atau kepala pasar se-Jabodetabek yang dihelat bersama Gerakan Pakai Masker (GPM), Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) bersama Bank BRI, Rabu (24/6/2020).

Dalam kesempatan itu, Sugeng menampilkan gambar-gambar terkait dampak Covid-19 bagi paru-paru, prostat, hingga kaki, yang punya bahaya menghambat sirkulasi oksigen dalam tubuh.

Baca Juga: Masker Kain Populer, Inilah 4 Kesalahan Dalam Membuatnya!

"Pintu masuk virus ke manusia, paling banyak melalui saluran nafas. Jadi pada studi yang dilakukan, 75-80 persen itu masuk melalui mulut atau hidung, bertahan di tenggorokan bagian bawah, baru turun ke paru-paru. Sisanya itu masuk melalui selaput bening pada mata," jelasnya.

Mana Lebih Penting, Masker atau Face Shield Ini Penjelasannya!_

Foto: arryramaphoto.wordpress.com

Menurut Sugeng, inilah kenapa melepas masker lebih berbahaya daripada melepas face shield. Pasalnya, face shield punya peran melindungi mata dari gerakan instingtif tangan, namun, masker punya peranan jauh lebih besar sebagai pintu masuk utama virus.

Baca juga: Banyak Dicari Pas New Normal, Ini Kelebihan dan Kekurangan Face Shield

"Kalau pakai masker dan face shield, tingkat penularan bisa turun sampai 85 persen. Tapi, kalau memang harus bergantian, jangan masker yang dilepas tapi face shield tetap dipakai, ini justru lebih berisiko. Jadi, kalau mau salah satu dilepas ya, face shield saja," jelasnya.

Sugeng pun menyarankan bagi pasar yang memiliki pendanaan lebih untuk rajin memberikan disinfeksi di seluruh pasar, agar para pedagang dan pengunjung yang hanya memakai masker pun tak terlalu berisiko ketika tangannya menyentuh barang-barang pasar.

Selain itu Sugeng juga menjelaskan bahwa pasar minimal harus dilap cairan disinfeksi sehari dua kali, di bagian-bagian rawan tersentuh, terutama kamar mandi di bagian wastafelnya.

Sementara itu, Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan seluruh pengelola pasar tradisional juga mesti tetap menjaga kapasitas maksimal di setiap ruangan, sehingga antarmanusia di dalamya masih memiliki jaga-jarak aman.

"Risiko penularan di tempat umum dan terbuka. Makanya kerumunan itu sebaiknya tetap dihindari, salah satunya di pasar," jelasnya.

Risiko adanya penderita Covid-19 di 25 orang yang berkumpul masih memiliki kemungkinan penularan 73 persen, sementara di tengah 50 orang berkumpul, kemungkinannya bahkan masih mencapai 92 persen.

Dokter holistik Grace Hananta dalam kesempatan yang sama memberikan beberapa tips menggunakan masker bagi para pengelola pasar yang biasanya sering dilupakan.

Contohnya, memastikan masker yang dipakai itu memiliki standar tiga lapis kain ataupun tisu, mengganti masker setiap 4 jam, jangan menyentuh masker di bagian tengahnya, dan menyarankan penggunaan masker medis bagi orang yang tampak sakit, sementara masker kain buat yang sehat.

Jadi, jangan lupa starter pack kalian ya saat ingin pergi ke tempat-tempat yang ramai.

Stay safe gengs!