MILZERU – Hari ini Google Doodle telah menampilkan gambar subak sebagai logonya. Perubahan logo pada Google dilakukan untuk mempertingati momen-momen tertentu yang bersejarah. Untuk tema hari ini (29/6), Google Doodle mengusung subak dari Bali.

Sistem subak telah lama menjadi salah satu ciri khas Provinsi Bali. Sistem subak merupakan sebuah system pengairan yang berkembang dalam pengaruh nilai-nilai ajaran Hindu yang cukup kuat. Selain itu system subak juga menjadi bentuk kearifan local yang membuat masyarakat petani dapat hidup berdampingan dengan alam untuk memperoleh hasil panen yang optimal.

Subak pun telah memperoleh pengakuan dari para pakar pertanian internasional. Salah satunya dari John S. Amber (1990) yang mengakui subak sebagai prinsip pengelolaan irigasi yang unggul dan maju. Sistem irigasi pertanian inipun tetap lestari dalam budaya masyarakat pedesaan di Bali selama berabad-abad dan terus berjalan hingga saat ini.

Dilihat dari sisi sejarah, sistem subak diperkirakan telah dikenal oleh masyarakat Bali sejak abad ke-11 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada temuan Prasasti Raja Purana Klungkung (994 Saka/1072 M) yang menyebutkan kata “kasuwakara”, yang diduga merupakan asal kata dari “suwak”, yang kemudian berkembang menjadi “subak”.

Subak merupakan suatu sistem swadaya masyarakat yang berfungsi mengatur pembagian aliran irigasi yang mengairi setiap petak areal persawahan. Sistem ini dikelola secara berkelompok dan bertingkat disertai pembagian peran yang spesifik bagi setiap anggotanya.

Sumber sejarah lainnya Lontar Markandeya Purana. Di dalam naskah yang menceritakan asal muasal desa dan Pura Besakih ini terdapat cerita mengenai pertanian, irigasi, dan subak. Hal ini mengindikasikan eksistensi subak telah ada sejak sebelum Pura Besakih didirikan oleh Resi Markandeya pada awal abad ke-11 Masehi.

Dalam organisasi subak, dikenal adanya beberapa perangkat. Perangkat-perangkat yang ada dalam subak adalah pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir), dan beberapa yang lainnya. Selain itu, dikenal adanya sub-kelompok yang terdiri dari 20-40 petani yang disebut munduk, yang diketuai oleh seorang pengliman.

Selain sistem strukturalnya, subak juga memiliki kekhasan dalam hal ritual upacara keagamaan yang berlangsung di dalamnya. Dalam subak, dikenal adanya ritual yang berlaku secara perseorangan dan ritual berkelompok (tingkat munduk/tempek dan subak).

Ritual perseorangan diantaranya ngendangin (dilakukan saat pertama kali mencangkul), ngawiwit (saat petani menabur benih), mamula (saat menanam), neduh (saat padi berumur 1 bulan agar tidak diserang penyakit), binkunkung (saat padi mulai berisi), nyangket (saat panen), dan manteni (ketika padi disimpan di lumbung). Di tingkat tempek/munduk, dikenal ritual berkelompok seperti mapag toya, mecaru, dan ngusaba.