MILZERU – Beberapa waktu belakangan, beberapa negara sibuk dengan pembuatan dan pengetesan vaksin Covid-19, termasuk Indonesia. Namun, seluruh negara yang melakukan percobaan ini memprediksi bahwa vaksin Covid-19 belum akan siap dalam waktu dekat.

Berbeda dengan negara-negara lain di dunia, Rusia akan merilis vaksin Covid-19 pada 10 Agustus 2020. Jika terwujud, maka vaksin Covid-19 buatan Moskow akan jadi yang tercepat di dunia. Tapi dibalik angin segar mengenai vaksin Covid-19 ini, bagaimana hasil uji klinisnya?

Para pejabat Rusia mengaku sedang berupaya mendapat persetujuan agar kandidat vaksin Covid-19 yang dibuat Gamaleya Institute dapat digunakan pada 10 Agustus 2020 atau lebih awal lagi.

Mereka yakin vaksin buatan lembaga yang bermarkas di Moskow itu akan mendapat persetujuan dari otoritas berwenang untuk digunakan secara umum.

Sebagai tahap awal, para pekerja medis garis depan yang akan mendapat vaksin itu terlebih dahulu. "Ini adalah momen Sputnik," kata Kirill Dmitriev, pimpinan sebuah lembaga pendanaan Rusia yang membiayai riset vaksin di negaranya.

Momen Sputnik yang dimaksud Dmitriev adalah mengacu kesuksesan Uni Soviet yang meluncurkan satelit pertama di dunia pada 1957.

"Masyarakat Amerika terkejut saat mendengar sinyal Sputnik. Sama dengan vaksin ini, Rusia akan menjadi yang pertama," kata Dmitriev. Namun rencana peluncuran vaksin Covid-19 buatan Rusia secepat itu justru menuai tanda tanya dari negara lain. Penyebabnya, Rusia tidak pernah merilis data uji klinis vaksin buatannya.

Karena itu banyak yang menduga tahapan uji klinis vaksin Covid-19 buatan Rusia belum tuntas. Apalagi jika dibandingkan beberapa kandidat vaksin dari negara lain yang masih dalam uji klinis fase ketiga dan baru akan selesai pada akhir tahun ini atau awal 2021.

Mengenai uji klinis, Kementerian Pertahanan Rusia pernah menyebut, para tentara mereka sudah sukarela ikut uji klinis vaksin ini.

Sementara Direktur Proyek Vaksin Covid-19 Rusia, Alexander Ginsburg mengaku dirinya juga ikut uji klinis dengan menyuntik sendiri dengan vaksin itu.

Para ilmuwan Rusia menyebut vaksin buatan mereka cepat dirilis karena memodifikasi dari vaksin yang sudah ada untuk penyakit lain.

"Rusia mengukuhkan posisi kepemimpinannya dalam pengembangan vaksin dan dari platform vaksin Ebola dan MERS telah terbukti menjadi solusi pertama yang aman dan efisien untuk masalah terbesar dunia," kata Dmitriev.

Tapi membuat vaksin Covid-19 dengan mengambil dasar vaksin yang sudah beredar juga dilakukan oleh banyak negara lain.

Seperti perusahaan bioteknologi Moderna yang didukung pemerintah AS, membuat vaksin Covid-19 dengan basis vaksin yang digunakan untuk penyakit MERS.

Pengembangan vaksin Rusia juga dibayang-bayangi tudingan pencurian hasil penelitian dari negara lain.

Awal bulan ini, Moskow membantah tuduhan yang menyebut mata-mata mereka telah menyusup laboratorium milik Amerika, Kanada dan Inggris guna mencuri data rahasia pengembangan vaksin Covid-19.