MILZERU – BINGKISAN KHONG GUAN

Mari kita buka

Apa isi kaleng Khong Guan ini:

biskuit

peyek

keripik

ampiang

atau rengginang?

 

Simsalabim. Buka!

 

Isinya ternyata

ponsel

kartu ATM

tiket

voucer

obat

jimat

dan kepingan-kepingan rindu

yang sudah membatu

 

(2019)

Kumpulan puisi 'Perjamuan Khong Guan' dari judul saja sudah menarik minat untuk dibaca. Perjamuan sendiri dalam KBBI berarti pertemuan makan minum: pesta: resepsi. Lalu Khong Guan, siapa sih yang tidak tahu biskuit legen yang satu ini, biskuit yang hampir selalu ada ketika hari raya. Kalau hari-hari biasa sih, isinya biasanya rengginang dan kawan-kawannya, hihi.

Tapi dilihat dari puisi di atas, ternyata isi kalengnya ponsel, kartu ATM, dan segala perangkat lainnya yang biasa digunakan manusia modern. Sepertinya buku kumpulan puisi ini akan sedikit mengkritik tentang kebiasaan manusia yang telah hilang saat perjamuan di masa sebelum ada ponsel canggih. 

Dulu, saat berada di meja makan, para anggota akan makan dan mengobrol selayaknya makhluk sosial. Kalau sekarang, pertemuan makan minum itu hanya berkumpul semata, jika makanannya cukup bagus di kamera maka akan dipotret, lalu masing-masing akan kembali sibuk dengan ponselnya.

Coba kita lihat puisi yang satu ini.

SIMBAH KHONG GUAN

 

Simbah muncul di kaleng Khong Guan:

duduk sendirian di meja makan,

mencelupkan biskuit ke dalam teh hangat

dan menyantapnya pelan-pelan.

 

Anak cucunya sibuk ngeluyur

di jagat maya, tak mau mengerti perasaan

orang tua yang tak lama lagi akan

mengucapkan selamat tinggal, dunia.

 

Simbah mencelupkan jarinya

ke dalam teh hangat

dan berkata, "Kesepian sosial

bagi simbah-simbah yang merana."

 

(2019)

Selain itu, salah satu puisi di buku ini juga membahas tentang manusia-manusia yang terlalu sibuk dengan ponselnya hingga lupa pada Tuhannya. Seperti puisi ini.

DOA ORANG SIBUK YANG 24 JAM SEHARI BERKANTOR DI PONSELNYA

 

Tuhan, ponsel saya 

rusak dibanting gempa.

Nomor kontak saya hilang semua.

Satu-satunya yang tersisa 

ialah nomorMu.

 

Tuhan berkata:

Dan itulah satu-satunya nomor 

yang tak pernah kausapa.

 

(2018)

Buku kumpulan puisi ini sangat dibutuhkan oleh manusia-manusia di zaman ini. Tidak ada yang salah dengan berselancar di dunia maya, tapi ingat, kita tetap hidup di dunia nyata.