MILZERU – Peristiwa atau Gerakan 30 September/ Partai Komunis Indonesia atau dikenal G30S/PKI merupakan peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Gerakan ini berlatar belakang sebuah kudeta yang menewaskan tujuh jenderal pada masa itu.

Dihimpun dari berbagai sumber, peristiwa  G30S/PKI terjadi pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965. Peristiwa tersebut diawali dengan penculikan yang menimpa jenderal-jenderal. Tiga orang jenderal dibunuh langsung di rumah mereka sendiri.

Tiga jenderal tersebut adalah Jendral Ahmad Yani, Letjen Mas Tirtodarmo Haryono, dan Mayjend Donald Isaac Panjaitan. Keempat jenderal lainnya yang juga tewas dibunuh adalah Brigjen Katamso Darmokusumo, Letjen Suprapto, Kapten Pierre Tandean, dan K.S Tubun.

Ketujuh jasad jenderal tersebut ditemukan di tempat yang saat ini menjadi situs sejarah yakni di Lubang Buaya pada tanggal 3 oktober 1965. Jasad-jasad tersebut kemudian dikuburkan dengan semestinya pada tanggal 5 oktober 1965.

Peristiwa G30S/PKI juga sempat diangkat menajdi sebuah film yang dirilis pada tahun 1984. Film ini dibuat sangat detail dan menampilkan banyak adegan pembunuhan mengerikan layaknya kejadian asli pada masa itu.

Film G30S/PKI juga sempat ditayangkan di seluruh stasiun televisi tiap kali momen 30 September diperingati. Dalam film yang berdurasi lebih dari tiga jam tersebut, salah satunya menampilkan scene pengepungan sebuah rumah perwira TNI Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Donald Isaac Pandjaitan. Scene tersebut menampilkan sang jenderal yang lengkap mengenakan seragam militar tampak tak takut saat rumahnya dikepung.

DI Pandjaitan masih tampak tenang meski sudah diberitahu bahwa dua keponakannya telah ditembak. Saat sudah berhadapan dengan para tentara, DI Pandjaitan pun ditembak mati karena melawan saat hendak dipukul.

Naskah film G30S/PKI sendiri ditulis oleh Arifin C Noer dan Nugroho Notosusanto, kemudian diproduksi melalui Pusat Produksi Film Negara (PPFN).

Film ini diantaranya dibintangi oleh Bram Adrianto sebagai Kol. Untung, Amoroso Katamsi sebagai Mayjen Soeharto, Umar Kayam sebagai Presiden Soekarno, Syubah Asa, Ade Irawan dan masih banyak yang lainnya.

Sumber artikel asli