MILZERU – Saat ini Amerika sedang melangsungkan pemilihan umum serentak untuk menentukan Presiden mereka dalam periode selanjutnya. Seperti kita ketahui Gengs, dalam pemilu tersebut terdapat dua kandidat yang sama-sama kuat, yaitu Joe Biden dengan Donald Trump. Donald Trump merupakan Presiden Amerika Serikat saat ini dan Joe Biden merupakan mantan wakil Presiden Amerika Serikat era Barack Obama.

Walau sama-sama mengusung sebuah sistem pemilu secara demokrasi, namun ada perbedaan dari sistem tata cara pemilu pada umumnya lho Gengs. Sistem pemilu di Amerika serikat tidak serta merta mengandalkan hasil suara terbanyak, melainkan mereka menggunakan sitem yang namanya ‘electoral college’. Ada yang tau gak Gengs apa itu ‘electoral college’?

Electoral college merupakan sebuah sistem pemilu yang digunakan oleh Amerika Serikat sejak dahulu, atau sejak negara Amerika Serikat pertama dibentuk sekitar abad ke-18. Dimana hasil pemilu tidak hanya ditentukan melalui hasil suara terbanyak, melainkan dari jumlah Negara Bagian yang berhasil dia menangkan.

Masih bingung? Detailnya seperti ini Gengs: Hasil suara dari para pemilih akan dikumpukan pada masing-masing negara bagian, kandidat yang memiliki jumlah suara terbanyak pada suatu Negara Bagian akan merebut seluruh suara electoral pada Negara Bagian tersebut. Kandidat yang berhasil mendapatkan sebanyak 270 dari total 538 suara electoral dinyatakan menang dan akan menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Kelihatannya agak rumit ya Gengs? Tapi kalau kalihan lihat lebih detail, sistem ini mereka buat agar suara pada Negara Bagian yang lebih kecil bisa lebih didengar dan berpengaruh. Karena kalau tidak, para kandidat akan hanya kampanye di Negara Bagian dengan jumlah populasi terbesar.

Dengan menjalani sistem seperti ini bukan tanpa protes. Sejumlah pengamat politik menilai sistem pemilu ini sudah terlalu kuno dan perlu diperbaharui. Namun kalau diperhatikan, sepertinya ini cukup efektif untuk mereka.

Jadi memang pemilu di Amerika Serikat ini tidak seperti sistem pemilu pada umumnya kan Gengs. Kalau menurut kalian, apakah Indonesia perlu melakukan pemilu dengan sistem ‘electoral collage’ Gengs?