MILZERU – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah memulai diskusi yang membahas regulasi pembuatan peraturan terkait sepeda listrik, otopet listrik, skuter listrik, dan kendaraan bertenaga listrik jenis lainnya untuk kawasan perkotaan. Hasil diskusi ini disebut bakal dirujuk ke Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menjadi pertimbangan penerbitan regulasi khusus.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan kendaraan personal mobility device tersebut digunakan sebagai kendaraan first mile dan last mile oleh masyarakat. Adapun, terdapat empat jenis kendaraan penunjang mobilitas personal yang akan diatur, yakni skuter listrik, hoverboard, otoped, dan unicycle.

Grabwheels

"Sementara empat jenis ini belum tertampung dalam regulasi kami di UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang sekarang sudah dikembangkan lebih lanjut di Indonesia dan sudah dipakai juga," tutur Budi Setiyadi.

Dalam diskusi tersebut melibatkan sejumlah banyak pihak mulai dari kepolisian, para ahli terkait, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), hingga sejumlah konsumen yang pernah menggunakan kendaraan jenis itu.

"Angkutan ini banyak peminatnya. Di kota-kota besar menjadi tren remaja dan masyarakat. Karena sangat disukai, kami harus berikan payung-payung pemikiran dan payung hukum untuk Pemda mengatur," kata Menteri Perhubungan Budi Karya dalam keterangan resminya.

Budi memberikan sedikit jabaran poin teknis penting sebagai dasar regulasi, antara lain:

  1. Kendaraan harus memiliki lampu utama
  1. Sistem rem yang berfungsi dengan baik
  1. Alat pemantul cahaya (reflector)
  1. Bel yang mengeluarkan bunyi
  1. Dapat digunakan tanpa mengganggu konsentrasi pengemudi
  1. Kecepatannya yang tidak lebih dari 25 km/jam
  1. Kewajiban pengguna memakai helm
  1. Usia pengguna paling rendah 12 tahun yang didampingi orang dewasa
  1. Tidak dibolehkan mengangkut penumpang.

Selain itu, belakangan ini terjadi penyalahgunaan terhadap akses penggunaan angkutan ini, di mana akses tersebut digunakan tidak semestinya dari tujuan semula dan tidak disertai dengan suatu rambu-rambu dan belum didukung dengan prasarana yang baik. Oleh karenanya dari pihak kami ingin mengundang ahli dan stake holders untuk membahas bagaimana itu baiknya kecepatan, prasarana, tanda-tanda, dan pengaturannya dilakukan," ungkap Budi Setiyadi.

grabwheels

Ia menambahkan keinginannya agar angkutan ini tidak dimonopoli korporasi tertentu sehingga kemungkinan menumbuhkan peluang wirausaha baru yang berujung menambah lapangan pekerjaan.

"Kemudian ini bisa dimanfaatkan untuk para pedagang. Jika selama ini dia hanya mampu sejauh empat km karena menggunakan tenaga (berjalan kaki), dengan menggunakan angkutan listrik ini bisa lebih jauh jangkauannya," tambahnya.